Bencana longsor kembali mengancam kawasan ikonik Ngarai Sianok di Bukittinggi, Sumatera Barat, tak lama setelah diguncang bencana alam skala besar di provinsi tersebut. Material tebing setinggi puluhan meter runtuh menutup sebagian badan ngarai dan mengikis lahan pertanian warga di kaki bukit, memperparah duka masyarakat setempat.
Dampak paling terasa dirasakan petani di Nagari Sianok Anam Suku. Sawah-sawah produktif yang menjadi sumber penghidupan kini terkikis material longsor, bahkan beberapa lahan tertimbun lumpur hingga kedalaman dua meter. “Sawah seluas setengah hektare lenyap dalam hitungan menit. Padahal padi sudah menguning,” keluh Afrizal, salah satu petani setempat. Pemerintah daerah telah menerjunkan tim tanggap darurat untuk pendataan kerugian dan bantuan sembako.
Sektor pariwisata pun ikut lesu. Ngarai Sianok yang biasanya ramai dikunjungi wisatawan kini sepi karena akses jalan ditutup sementara untuk evakuasi dan mitigasi risiko longsor susulan. Pedagang asongan dan pengelola homestay mengeluhkan pendapatan yang anjlok hingga 80 persen. “Biasanya akhir pekan penuh, sekarang sepi. Kami berharap normalisasi bisa cepat dilakukan,” ujar Rina, pemilik warung di dekat Janjang Koto Gadang.
BMKG mencatat curah hujan tinggi dalam sepekan terakhir sebagai pemicu utama longsor. Pemkot Bukittinggi berkoordinasi dengan BPBD Sumbar memasang early warning system dan memetakan zona rawan longsor di sepanjang tebing ngarai. Masyarakat diimbau waspada terutama saat hujan deras mengguyur.
Bagi yang ingin mencari hiburan alternatif selama masa pemulihan, Anda dapat mengunjungi Joker11 untuk referensi aktivitas daring yang menarik. Sementara itu, relawan dan donasi terus mengalir membantu warga terdampak agar roda ekonomi di kawasan Ngarai Sianok segera pulih seperti sedia kala.